<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mastereon &#187; Chicken Soup for the Soul</title>
	<atom:link href="http://www.mastereon.com/category/chicken-soup-for-the-soul/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mastereon.com</link>
	<description>Tips, tutorial, review dan download gratis</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 08:30:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dick and Rick Hoyt</title>
		<link>http://www.mastereon.com/chicken-soup-for-the-soul/dick-and-rick-hoyt</link>
		<comments>http://www.mastereon.com/chicken-soup-for-the-soul/dick-and-rick-hoyt#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 16:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chicken Soup for the Soul]]></category>
		<category><![CDATA[Chicken Soup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mastereon.com/?p=1584</guid>
		<description><![CDATA[Kisah luar biasa ini dimulai di Winchester, Mass, 43 tahun yang lalu, pada saat proses kelahiran Rick terjadi masalah serius. Leher Rick terlilit tali pusarnya, dan akibatnya sangat fatal. Salah satunya berakibat pada kerusakan otak yang mengakibatkan Rick tidak mampu mengendalikan tungkainya. Seorang dokter mengatakan kepada Dick dan istrinya bahwa Rick akan &#8220;menjadi sayur dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><img title="Dick dan Rick Hoyt Chicken Soup for the Soul" src="http://lh6.ggpht.com/_uGgk9SZgTDo/SrE8y4VFHII/AAAAAAAACkI/_9kO9u1XB-Y/s512/Triathlon%20in%20CT%20late%2080s.jpg" alt="Dick dan Rick Hoyt Chicken Soup for the Soul" width="150" height="184" /><p class="wp-caption-text">Dick dan Rick Hoyt</p></div>
<p style="text-align: justify;">Kisah luar biasa ini dimulai di Winchester, Mass, 43 tahun yang lalu, pada saat proses kelahiran Rick terjadi masalah serius. Leher Rick terlilit tali pusarnya, dan akibatnya sangat fatal. Salah satunya berakibat pada kerusakan otak yang mengakibatkan Rick tidak mampu mengendalikan tungkainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang dokter mengatakan kepada Dick dan istrinya bahwa Rick akan &#8220;menjadi sayur dalam sisa hidupnya”. Akhirnya mereka memutuskan untuk memasukan Rick ke sebuah lembaga penanganan khusus. <span id="more-1584"></span>Ketika Rick berusia 11 tahun mereka membawanya ke Departemen Teknik di Universitas Tufts dan menanyakan apakah ada cara untuk membantu anaknya berkomunikasi. ” Tidak mungkin, tidak ada yang terjadi di otaknya&#8221;, begitulah jawaban yang didapatkan oleh Dick dan istrinya. “Katakan padanya ini sebuah lelucon,” balas Dick. Mereka melakukannya. dan Rick tertawa. Ternyata banyak yang terjadi di otaknya. Dengan bantuan komputer yang memungkinkannya untuk mengendalikan kursor dengan menyentuh sebuah tombol dengan sisi kepala , Rick akhirnya dapat berkomunikasi. Kata-kata pertama yang Rick tulis adalah “Go Bruins!“.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika salah satu teman sekolah Rick mengalami kecelakaan, pihak sekolah mengadakan kegiatan sosial pengumpulan dana dengan mengadakan perlombaan lari, dan saat itu Rick mengetik pada alat komunikasinya ”Ayah, aku ingin melakukan itu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dick termanggu untuk sejenak, “seorang porker ” yang tidak pernah berlari lebih dari satu mil pada satu waktu, akan mendorong anaknya sejauh lima mil??? Namun, ia tetap ingin mencoba dan akhirnya Dick pun terbaring sakit selama dua minggu. Tapi ketika Rick mengetik sebuah kalimat ”Ayah, ketika kita sedang berlari, aku merasa sepertinya aku tidak cacat lagi!” Dan kalimat itu mengubah hidup Dick. Ia menjadi terobsesi dengan memberi Rick perasaan itu sesering mungkin. Dia bertekad bahwa ia dan Rick sudah siap untuk mencoba Maraton Boston tahun 1979. Tapi sayang, mereka tidak diijinkan oleh panitia.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama beberapa tahun Dick dan Rick hanya menggunakan lapangan besar untuk berlari, lalu mereka menemukan cara untuk ikut ke dalam perlombaan resmi. Pada tahun 1983 mereka berlari maraton dan mereka berhasil untuk mendapatkan tiket mengikuti perlombaan yang sama ditahun berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian seseorang berkata, “Hei, Dick, kenapa tidak triathlon?” ,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Triatlhlon adalah sebuah olahraga yang luar biasa. Cabang atletic yang menggabungkan banyak jenis perlombaan dalam satu perlombaan. Tidak ada yang menang ataupun yang kalah, karena siapapun yang mengikuti olahraga ini dan berhasil mencapai garis finish adalah pemenang.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana seorang pria yang tidak pernah belajar berenang dan tidak pandai bersepeda akan mengangkut 110-pon berat anaknya melalui triathlon? Namun, Dick tetap mencobanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Delapan puluh lima kali ia mendorong anaknya yg cacat di maraton sejauh 26,2 mil. tidak hanya itu, tetapi Rick juga diderek oleh ayahnya sepanjang 2,4 mil dalam sebuah perahu kecil sambil berenang dan mengayuh sepeda sejauh 112 mil di tempat duduk yang dirancang khusus di setang sepedanya – semua diselesaikan pada hari yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dick juga menariknya menggunakan ski lintas alam, menggendong anaknya di punggung untuk mendaki gunung dan sekali membawanya ke seluruh AS dengan menggunakan sepeda.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang mereka sudah melakukan 212 triathlons,</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat usia masing-masing dari mereka adalah 65 dan 43, Dick dan Rick telah menyelesaikan 24 Maraton di Boston. Dan waktu terbaik mereka, dua jam, 40 menit pada tahun 1992 – hanya 35 menit lebih lama dari Rekor dunia pada saat itu,</p>
<p style="text-align: justify;">Rick sangat mengagumi ayahnya, meskipun dalam keadaan cacat tapi dia dapat melihat dan merasakan kasih sayang ayahnya secara langsung. Dia mengetik pada komunikatornya “My dad is the Father of the Century.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya Dick tidak dalam keadaan sehat saat melakukan aktifitas-aktifitas olahraga tersebut. Dua tahun yang lalu ia memiliki serangan jantung ringan selama perlombaan. Dokter menemukan bahwa salah satu arterinya 95% telah tersumbat. “Jika anda tidak berada dalam keadaan yang begitu kondusif saat ini, Anda mungkin sudah meninggal 15 tahun lalu&#8221;. Jadi, dengan cara berolahraga, Dick dan Rick saling menyelamatkan kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat Hari Ayah, Rick ingin memberikan hadiah terbaik untuk ayahnya. hadiah tersebut merupakan hadiah terbaik yang ingin diberikan Rick dan hal tersebut sama sekali tidak diduga oleh Dick hoyt ayahnya. Hadiah yang tidak akan pernah dapat dibeli, yaitu keinginan sang anak agar ayahnya duduk di kursi roda miliknya dan walaupun hanya untuk sekali saja Rick ingin mendorong kursi rodanya tersebut dimana sang ayah telah mendorong kursi roda tersebut selama 40 tahun lebih. Dan seketika itu juga air mata ayahnya yang tertahan selama 40 tahun mengucur deras.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak yang luar biasa, dan ayah yang luar biasa. Ayah dan anak yang berlari dengan menggunakan hatinya akan selalu finish pada tempat yang paling bahagia dan sempurna dibandingkan kesempurnaan lainya didunia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mastereon.com/chicken-soup-for-the-soul/dick-and-rick-hoyt/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harga Sebuah Baju</title>
		<link>http://www.mastereon.com/chicken-soup-for-the-soul/harga-sebuah-baju</link>
		<comments>http://www.mastereon.com/chicken-soup-for-the-soul/harga-sebuah-baju#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 17:32:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chicken Soup for the Soul]]></category>
		<category><![CDATA[Chicken Soup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mastereon.com/?p=1223</guid>
		<description><![CDATA[Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignleft" style="width: 165px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img title="Chicken soup for the soul - harga sebuah baju" src="http://lh5.ggpht.com/_TwBqZH2QeUA/SykaS7y0Q4I/AAAAAAAAAHo/Gm3Uq9Ba3wQ/stanford-family.jpg" alt="Stanford Family" width="155" height="251" /></dt>
</dl>
</div>
<p align="justify">Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.</p>
<p align="justify">“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.</p>
<p align="justify">“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat. “Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.</p>
<p align="justify">Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.<span id="more-1223"></span></p>
<p align="justify">“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.</p>
<p align="justify">Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. Bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.</p>
<p align="justify">Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”</p>
<p align="justify">“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”</p>
<p align="justify">Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”</p>
<p align="justify">Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan,”Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?”</p>
<p align="justify">Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.</p>
<p align="justify">Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.</p>
<p align="center"><img title="Harga Sebuah Baju" src="http://lh4.ggpht.com/_TwBqZH2QeUA/SykbzxhHbeI/AAAAAAAAAHs/s1Qh1lOiTdE/stanford-university.jpg" alt="Harga Sebuah Baju" width="500" height="300" /></p>
<blockquote>
<p align="right">Sumber artikel: http://yucheyahya.net78.net/?p=50</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mastereon.com/chicken-soup-for-the-soul/harga-sebuah-baju/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Tuhan &#8211; Andy&#039;s Corner</title>
		<link>http://www.mastereon.com/chicken-soup-for-the-soul/cara-tuhan</link>
		<comments>http://www.mastereon.com/chicken-soup-for-the-soul/cara-tuhan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 10:28:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chicken Soup for the Soul]]></category>
		<category><![CDATA[Chicken Soup]]></category>
		<category><![CDATA[Kick Andy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mastereon.com/?p=1214</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi. Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img title="Kick Andy Corner Chicken Soup for the Soul" src="http://lh4.ggpht.com/_XN_mLeT4zF4/SyYV3fLABsI/AAAAAAAAAqE/47AnTy2tkbc/kick-andy.gif" alt="Kick Andys Corner" width="150" height="140" /><p class="wp-caption-text">Kick Andy&#39;s Corner</p></div>
<p align="justify">Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.</p>
<p align="justify">Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut.</p>
<p><span id="more-1214"></span></p>
<p align="justify">Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.</p>
<p align="justify">Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.</p>
<p align="justify">Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.</p>
<p align="justify">Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.</p>
<p align="justify">Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan &#8212; setelah kakak saya tiada &#8212; saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya.</p>
<p align="justify">Namun ketika keadaan yang terbutruk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu?</p>
<p align="justify">Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.</p>
<p align="justify">Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.</p>
<p align="justify">Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah.</p>
<p align="justify">Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.</p>
<p align="justify">Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain.</p>
<p align="justify">Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.</p>
<p align="justify">Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.</p>
<p align="justify">Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis!</p>
<p align="justify">Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib.</p>
<p align="justify">Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.</p>
<p align="justify">Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya.</p>
<p align="justify">Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar.</p>
<blockquote>
<p align="right">Artikel dari : http://kickandy.com/corner/2009/06/07/1592/21/1/5/Cara-Tuhan</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mastereon.com/chicken-soup-for-the-soul/cara-tuhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
